STRATEGI
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Diantaranya :
Pertama, tingkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, rasanya terlalu sulit bagi kita untuk dapat menjadi orang yang ikhlas beramal tanpa pamrih.
Seorang istri yang memasak, menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk suami dan anak-anak, akan semakin tinggi nilan manfaatnya manakala apa yang dilakukannya adalah demi meraih ridlo Alloh. Itulah keimanan.
Seorang guru akan semakin tinggi nilai manfaatnya bagi sesama manusia manakala ia mampu meningkatkan kualitas keikhlasannya dalam mengajarkan sebuah ilmu pengetahuan kepada para siswanya.
Ketika terbersit di benak kita –sedikit saja–suatu rasa mengenai apa yang kita lakukan itu adalah agar “Naik” pamor kita, agar disegani kita, agar tambah gengsi kita. Maka justru Alloh akan “menghinakan kita”dengan cara-cara yang tidak kita sadari. Bila terbersit sedikit saja bahwa kita ingin disanjung dan dipuji. Justru Alloh akan menghinakannya. Itu pasti.
Teman-teman; Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi sesama menjadi ringan kita lakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun. (Qur’an Surat 65:7)
Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi yang kita miliki. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika Qur’an bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Logika ini diajarkan Rasulullah saw. pada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau perintahkan sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa adalah apa yang telah dibagikan. Itulah harta milik kita yang hakiki karena harta itu akan kekal menjadi tabungan kita di akhirat kelak. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah membusuk jika tidak sempat kita masak atau pasti menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya.
untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis hancur, lapuk termakan waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan orang-orang shaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Kelima, untuk bisa memberi, tentu kita harus memiliki sesuatu untuk diberikan. Kumpulkan bekal-apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang kehausan. Kita punya makanan, kita bias memberi yang kelaparan. Jika kita punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang belum tahu. Begitulah Alloh perintahkan pada kita dalam Surah At-Tholaq 65:7. *****Wallohu A’lam